Ceritanya sederhana, mengalir mulus tanpa plot yang berbelit-belit. Hebatnya, tidak membuat saya bosan, malah rasanya cukup sayang meninggalkan tempat duduk (^0^)/. Film itu begitu sarat dengan penggambaran emosi orang-orang yang berbagi hidup satu sama lain dan menjalin berbagai kisah dengan 'sedapnya rasa ikan'. Kisahnya hangat, sehangat kuah sup miso yang mengepul saat siap disantap \(^.^)/. Jadi, lebih baik tidak saya beberkan di sini supaya kenikmatannya tak menguap sia-sia.
Satu hal yang paling tak terlupakan bagi saya dari film itu adalah filosofi di balik kata 'itadakimasu'.
Kata-kata itu akrab sekali di telinga saya sejak bertahun-tahun lalu, ketika saya mulai keranjingan membaca komik jepang (Manga) yang merembetkan minat saya ke mana-mana sampai jadi ingin mengenal budaya jepang, kemudian belajar bahasanya (nihongo). Dari pengalaman itu, saya baru memahami kata-kata itu sebagai sekedar salam ataupun doa (super pendek) yang diucapkan sebelum makan. Bahkan ketika salah seorang teman menanyakan artinya, asal saja saya jawab: "kurang lebih itu artinya sama dengan selamat makan atau selamat menikmati".
Haaaiiiiiiihhhhhh, syukurlah saya berkesempatan menebus kesalahan dengan menulis artikel ini./(~.~)/...
Adegannya hanya sebentar, saat sang tokoh utama disajikan sushi dari potongan ikan bonito (tuna) segar. Sang penyaji mengatakan;
"Apa kau tahu kenapa kita berkata 'Itadakimasu' saat makan? itu karena kita berterima kasih pada mereka (ikan) yang sudah berkorban untuk menyambung hidup kita. Sebenarnya itulah arti dari kata-kata itu, jadi jangan sia-siakan". Saya jadi terpana, hebat sekali makna dari kata-kata itu. Namun, jangankan kita yang tidak mengenal bahasa jepang, orang jepangnya sendiri sekalipun belum tentu menyadari apa sebenarnya makna dari kata-kata tersebut...(^0^).
Sudah 'penyakit' bagi kebanyakan orang dari berbagai bangsa untuk melupakan sesuatu yang sudah terlalu biasa dan ada dalam keseharian. Padahal, banyak juga hal-hal kecil di sekitar kita yang mengajarkan kepada kita untuk menghargai sesuatu dalam hidup. Mungkin memang kita telah dimanjakan oleh keadaan sedemikian rupa, sehingga lupa menghargai pengorbanan yang dibutuhkan hingga kita bisa sampai ke posisi kita saat ini...\(^0^)/.
Life is good, honey...don't ruin it just because you don't like something that is too small compared to what the universe have done for us. \(^.^)/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar